kultum subuh
Salah satu Amal Jariyah Yang Pahalanya Mengalir Sampai Hari Kiamat
Amal
Jariyah adalah sebuah amalan yang pahalanya akan terus menerus mengalir hingga
hari kiamat, walau pun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal
dunia. Hadis tentang amal jariyah yang popular dari Abu Hurairah menerangkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka
terputuslah semua amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan yaitu amal
jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya" (Hadis
Riwayat Muslim)
Selain
dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang
tergolong dalam amal jariyah.Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda
maksudnya, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala
setelah orang yang melakukannya meninggal dunia ialah ilmu yang disebarluaskannya,
anak soleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang
diwariskannya, masjid yang dibina, rumah yang dibina untuk penginapan orang
yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang
ramai, dan harta yang disedekahkannya "(Hadis Riwayah Ibnu Majah)
Anak
soleh yang ditinggalkan:
Didiklah
anakmu menjadi anak yang soleh, karena Anak yang soleh akan selalu berbuat
kebaikan di dunia dan selalu mendo'akan orangtuanya. Menurut keterangan hadis
ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak soleh pahalanya sampai kepada orang tua
yang mendidiknya yang telah meninggal dunia tanpa mengurangkan nilai atau
pahala yang diterima oleh anak-anak tadi. Doa anak yang soleh kepada orang
tuanya mustajab di sisi Allah SWT.
Berbahagialah
orang tua yang berhasil mencetak generasi sholeh dari anak keturunannya, yang
taat kepada Allah Azza wa Jalla , yang mendoakan kebaikan bagi kedua orang
tuanya, sekalipun mereka telah meninggal dunia. Sesungguhnya doa baik seorang
anak bagi orang tuanya adalah investasi jangka panjang.
Hadits ini menjelaskan bahwa anak
sholeh yang mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya, maka berkah doa itu
akan mengalir sekalipun keduanya telah meninggal dunia. Maka biar tidak sampai
terlambat, marilah kita bersemangat menanamkan tauhid pada diri anak-anak kita,
menguatkan hubungan dan ketergantungan mereka hanya kepada Allah Azza wa Jalla
, mengajak mereka dalam berbagai ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan
mengajari mereka akan keagungan makna doa seorang Mukmin kepada Rabb-nya,
karena Allah Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba yang banyak berdoa kepada-Nya.
Al-Baghawi menceritakan kepada peserta pengajiannya, di
kalangan Bani Israil ada seorang lelaki yang saleh, Ia punya seroang anak kecil
dan seekor anak lembu. Menjelang hari kematiannya, lelaki itu melepaskan anak
lembu tersebut di suatu hutan seraya berdoa. "Wahai Tuhanku, aku
menitipkan anak lembu ini untuk anakku sampai ia besar".Setelah ia
meninggal dunia, anak lembu itu tidak pernah keluar hutan dan selalu
menyembunyikan diri agar tidak terlihat orang lain. Setelah anak itu dewasa, ia
membaktikan diri pada ibunya. Ia berkerja mencari kayu bayar untuk kemudian
dijual di pasar.
Suatu hari ibunya mengatakan, "Sesungguhnya ayahmu
meninggalkan anak lembu untukmu yang dilepaskan di suatu hutan.
Pergilah
anak muda itu ke hutan, dan menemukan lembu yang dimaksud.
Sesampai di rumah,
ibunya berkata, "Anakku engkau adalah orang fakir. Tidak punya harta,
berpaya-payah mencari kayu bakar. Untuk itu juallah lembu ini." harga tiga
dinar. Maka pergilah anak itu ke pasar. Lalu Allah mengutus seorang malaikat :
"Berapa
dinar engkau jual lembu ini", tanya malaikat itu.
"Tiga
dinar, dan aku mengadakan perjanjian kepadamu dengan keridhaan ibuku,
"Jawab anak muda itu.
"ambillah
enam dinar ini, dan usahlah engkau meminta persetujuan ibumu", bujuk
malaikat itu.
"Bahkan
andai engkau memberiku emas seberat lembu ini, takkan kuterima kecuali dengan
keridhaan ibuku".
Anak muda
itu pulang kerumah, dan menyampaikan bahwa lembu mereka ditawar enam
dinar.
Pemuda itu
kembali lagi kepada ibunya dan memberitahukan mengenai tawaran ini. Sang ibu berkata,
"Sesungguhnya orang yang datang kepadamu itu adalah malaikat. Ia menjelma
dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Untuk itu jika ia kembali kepadamu,
tanyakanlah: apakah engkau mengizinkan aku menjual lembu ini atau tidak?"
Akhirnya
malaikat tersebut mengatakan, "Pulanglah engkau dan katakanlah pada ibumu
agar merawat lembu ini baik-baik. Kelak Musa bin ''Imran akan membeli lembu darimu,
karena ada seseorang yang mati terbunuh dari kaum Bani Israil Untuk itu jangan
engkau jual, kecuali dengan uang dinar seberat lembumu itu."
Pemuda itu
pulang dan merawat lembunya baik-baik. Tak lama kemudian Allah SWT mentakdirkan
Bani Israil supaya menyembelih seekor lembu*. Lalu mereka berkali-kali meminta
supaya Nabi Musa a.s. menerangkan sifat-sifat lembu yang akan disembelihnya.
Sehingga akhirnya lembu anak muda itulah yang memenuhi syarat. Dan itu semua
terjadi semata-mata karena amal bakti anak muda itu kepada ibunya.
Lembu yang dimaksudkan
sebagai perantara untuk mencari siapa pelaku pembunuhan di kalangan kaum Bani
Israil. Kisah ini diterangkan dalam Al Quran surah Al-Baqarah(kerbau) ayat
67-73.
PELAJARAN HIKMAH YANG DAPAT
DIPETIK:
1.Anak dapat menjadi investasi
kebaikan jangka panjang di akherat, selama mereka terdidik untuk berbakti
kepada kedua orang tua dan tertanam pada kalbu mereka akan pentingnya berdoa
kepada Allah Azza wa Jalla dalam setiap keadaan.
2. Membimbing anak selayaknya
dilakukan semenjak kecil sehingga ia akan tumbuh di atas kebaikan yang mengakar
sampaipun kedua orang tuanya telah tiada.
Cerita ini
disarikan dari bagian buku : Ridho Allah tergantung Ridho Orang Tua
Komentar
Posting Komentar