definisi perencanaan-distribusi
Perencanaan Menu
Perencanaan menu adalah suatu
kegiatan penyusunan menu yang akan diolah memenuhi selera konsumen/pasien dan
kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang. Perencanaan menu di
Rumah Sakit Ortopedi Surakarta ini yaitu dengan menggunakan siklus menu 10
hari. Hari ke 31 memakai menu khusus.
Perencanaan menu Menu adalah
rangkaian dari beberapa hidangan atau masakan yang disajikan atau dihidangkan
untuk seseorang atau kelompok orang untuk setiap kali makan, yaitu dapat berupa
susunan hidangan pagi, hidangan siang dan hidangan malam. Perencanaan menu
adalah serangkaian kegiatan menyusun hidangan dalam variasi yang serasi untuk
manajemen penyelenggaraan makanan di institusi. (Muchatob, 1991)
Sebelum proses penyelenggaraan
makanan banyak dilakukan, tentunya perlu perencanaan dan persiapan yang matang
sehingga proses penyelenggaraan makanan banyak dapat berjalan dengan baik.
Perencanaan menu yang baik mempunyai tujuan yaitu:
a. Sebagai pedoman dalam
menjalankan kegiatan pengolahan sehari-hari
b. Mengatur variasi dan kombinasi
hidangan untuk menghindari kebosanan yang disebabkan pemakaian jenis bahan
makanan atau hidangan yang diulang-ulang
c. Menyusun menu sesuai biaya
yang tersedia, sehingga kekurangan anggaran dapat dihindari atau harga makanan
per unit dapat dikendalikan
d. Waktu dan tenaga yang tersedia dapat digunakan
sehemat mungkin
e. Menu yang terencana baik dapat
menjadi suatu alat penyuluhan gizi yang baik. Sedangkan persyaratan dalam
perencanaan menu yang harus ada meliputi anggaran yang tersedia, peraturan
pemberian makanan, tipe atau macam menu, pola menu serta frekuensi penggunaan
bahan makanan. (Instalasi Gizi, 1997)
Perencanan menu adalah suatu
kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen pasien
dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang. Merencanakan menu
untuk suatu pelayanan makanan kepada orang banyak adalah suatu pekerjaan yang
tidak mudah, karena setiap orang mempunyai kebiasaan dan kesukaan makan yang
saling berbeda. Oleh karena itu, susunan menu harus disesuaikan kebiasaan makan
dan selera umum (Ratna, 2009)
Pengadaan BM
Palacio dan Theis
(2009) mendefinisikan pembelanjaan
bahan pangan sebagai suatu proses
pembelian atau pengadaan suatu produk pada waktu yang tepat dengan
jumlah, kualitas, dan
harga yang sesuai.
Ada dua tipe
jenis pembelanjaan bahan pangan,
yaitu centralized purchasing (pembelanjaan
terpusat) dan group and corporate purchasing (pembelanjaan kelompok).
Pembelian secara terpusat
yang dilakukan oleh
departemen pengadaan bahan pangan
yang bertanggung jawab untuk
mendapatkan kebutuhan bahan atau peralatan untuk seluruh unit dalamsuatu
organisasi, biasa digunakan pada organisasi
besar termasuk universitas,
sekolah, rumah makan
dengan banyak cabang, perusahaan,
dan rumah sakit.
Tipe pembelanjaan kelompok
dapat menguntungkan pembeli untuk meningkatkan volume pembelian sehingga
dapat mengurangi harga.
Penerimaan dan penyimpanan bahan
makanan
Penerimaan bahan makanan adalah
suatu kegiatan yang meliputi pemeriksaan, pencatatan dan pelapporan tentang
macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang diterima sesuai dengan pesanan
yang telah ditetapkan.Institusi membuat daftar pesanan bahan makanan sesuai
dengan menu yang akan disajikan (Moehyi, 1992).
Penerimaan adalah suatu proses
kegiatan memeriksa, meneliti, mencatat, memutuskan dan melaporkan waktu
penerimaan bahan makanan, macam dan jumlah serta spesifikasi bahan makanan
menurut pesanan pembeli.
Tujuan penerimaan bahan makanan
adalah diterimanya bahan makanan dalam macam, jumlah, spesifikasi bahan makanan
yang disepakati sesuai dengan waktu permintaan pesanan. Petugas penerimaan
harus mempunyai tanggung jawab mampu mengambil keputusan dengan tepat, cepat
dan teliti, mempunyai pengalaman memilih dan menilai spesifikasi bahan makanan
yang digunakan dalam penyelenggaraan makanan, memiliki pengetahuan yang luas
tentang bahan makanan, tidak mudah berkompromi dengan penjual, bersikap adil,
dapat menjaga rahasia klasifikasi jenis-jenis rekanan, bijaksana dan jujur.
Penyimpanan bahan makanan adalah
proses kegiatan yang menyangkut pemasukan bahan makanan, penyimpanan bahan
makanan serta penyaluran bahan makanan sesuai dengan permintaan untuk persiapan
pemasakan bahan makanan.. Tujuan penyimpanan adalah memelihara dan
mempertahankan kondisi dan mutu bahan makanan, melindungi bahan makanan dan
menyediakan bahan makanan. (Muchatob, 1991)
Letak ruang penerimaan sebaiknya
dapat dicapai dengan kendaraan, ruang cukup luas untuk memeriksa bahan makanan
yang diterima serta dilengkapi dengan timbangan sejajar dengan lantai, kereta
pengangkut bahan makanan, meja kerja dan beberapa container yang dianggap
perlu, sesuai dengan kemampuan volume bahan makanan yang akan diterima.
Penyimpanan bahan makanan adalah proses
kegiatan yang menyangkut pemasukan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan
serta penyaluran bahan makanan sesuai dengan permintaan untuk persiapan
pemasakan bahan makanan.. Tujuan penyimpanan adalah memelihara dan
mempertahankan kondisi dan mutu bahan makanan, 10 melindungi bahan makanan dan
menyediakan bahan makanan. (Muchatob, 1991)
Syarat ruang penyimpanan kering
antara lain : (a) Bangunan gudang dirancang bebas kelembaban, mudah
dibersihkan, bebas serangga dan binatang pengerat (b) Bahan makanan diletakkan
secara teratur dan sistematis menurut jenis, golongan dan frekuensi pemakaian
(c) pembersihan dan penyemprotan teratur, setiap hari (d) Bahan makanan disusun
berseling tidak langsung terkena dinding dan lantai (e) Letak meja penerimaan
dekat dengan pintu Sedangkan syarat tempat penyimpanan bahan makanan segar
meliputi : (a) Suhu harus sesuai dengan bahan makanan (b) Pengecekan suhu 2 x
sehari, sedangkan pembersihan lemari es dilakukan setiap hari (c) Pencairan
espada lemari es harus segera setelah terjadi pengerasan. Sebaiknya memilih
lemari es yang otomatis dapat mencairkan kembali (d) Semua bahan makanan yang
akan disimpan harus dibersihkan dan dibungkus dalam plastik kontainer/ kertas
timah Semua bahan makanan yang akan diambil dari ruang penyimpanan harus
melalui permintaan yang tercatat dan ditanda tangani oleh petugas yang
berwenang. Pihak manajemen harus menentukan siapa yang bertanggung jawab dalam
permintaan bahan makanan. (Mukrie, 1996)
Persiapan bahan makanan
persiapan bahan makanan adalah
proses kegiatan dalam rangka menyiapkan bahan makanan dan bumbu-bumbu sebelum
dilakukan pemasakan. Persiapan bahan makanan melalui perlakuan pada saat bahan
makanan diterima atau diambil dari ruang penyimpanan, menyiangi dan membersihkan
dari bagian yang kotor, mencuci, memotong, merendam bila perlu, mengiris tipis,
menggiling, menumbuk atau mengaduk, membentuk makanan sehingga bahan makanan
siap dimasak. (Mukrie,
1980)
Kehilangan zat-zat gizi seiring
terjadi pada saat makanandipersiapkan ataupun pada saat makanan diolah atau
setelah disajikan. Untuk mencegah hal ini, perlu dipraktekkan cara-cara
persiapan bahan makanan yang memenuhi syarat gizi dan kesehatan serta cara
pengolahan dan penyajian makanan yang baik dan tepat. Perlakuan trhadap makanan
matangpun perlu diperhatikan dengan baik. Persiapan bahan makanan meliputi
semua perlakuan pada saat bahan makanan diterima, diambil atau dikeluarkan dari
penyimpanan untuk kemudian disiangi, dibersihkan bagian-bagian yang tidak
dimakan, dicuci, dipotong, direndam bila perlu, diiris tipis, digiling,
ditumbuk-tumbuk, dirajang, diaduk, dipak, dibentuk, dicetak, dipanir, sampai
saat bahan makanan siap untuk dimasak. (Direktorat RS, 1981)
Pengolahan bahan makanan
Pengolahan bahan makanan adalah
proses kegiatan terhadap bahan makanan yang telah dipersiapkan menurut prosedur
yang telah ditentukan dengan menambahkan bumbu standar menurut resep, jumlah
klien, serta perlakuan spesial yaitu pemasakan dengan air, lemak, pemanasan
dalam rangka mewujudkan masakan dengan cita rasa yang tinggi. Tujuan dari
pengolahan adalah meningkatkan nilai gizi makanan, meningkatkan nilai cerna
makanan, menambah aroma serta membunuh kuman yang berbahaya atau mengilangkan
racun makanan sehingga terjamin dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia.
(Direktorat RS, 1981)
Pendistribusian dan penyajian makanan
Penyajian makanan yang telah
dimasak merupakan kegiatan terakhir dalam proses penyelenggaraan makanan.
Beberapa hal yang perlu diketahui dari penyajian antara lain tentang beragamnya
hidangan itu sendiri, dimana setiap hidangan sebaiknya disajikan dengan
peralatan yang paling sesuai.
Untuk sampai kepada konsumen atau
pasien, makanan setelah mengalami proses pemasakan, harus pula didistribusikan
menurut ketentuan yang ditetapkan pengelola makanan. Dalam menerapkan prosedur
distribusi dikenal 2 (dua) cara pendistribusian makanan, yaitu cara
sentralisasi dan desentralisasi.
Penyajian makanan yang telah
dimasak merupakan kegiatan terakhir dalam proses penyelenggaraan makanan. Beberapa
hal yang perlu diketahui dari penyajian antara lain tentang beragamnya hidangan
itu sendiri, dimana setiap hidangan sebaiknya disajikan dengan peralatan yang
paling sesuai. Cara penyajian makanan memberikan arti khusus penampilan makanan
it sendiri. Seni menyajikan makanan ada beberapa jenis tergantung dari asal
metode tersebut diperkenalkan yang antara lain meliputi penyajian prasmanan,
penyajian kafetaria, penyajian rangsum atau catu, serta family service.
Pendistribusian Makanan
Tugas akhir penyelenggaraan bahan makanan adalah
penghidangan atau pendistribusian
makanan pada konsumen.
Tahap ini perlu
mendapat perhatian
sebaik-baiknya. Bila tahap
ini mengecewakan, berarti
sia-sialah usaha penyelenggaraan
makanan tersebut (Tarwotdjo
1983)
Pendistribusian Makanan
Pendsitribusian makanan adalah serangkaian kegiatan penyaluran makanan sesuai
dengan jumlah porsi dan jenis makanan konsumen yang dilayani (makanan biasa
maupun khusus) (Depkes RI, 2003).
Setelah bahan makanan mengalami
proses pemasakan, selanjutnya bahan makanan tersebut disalurkan untuk
disampaikan kepada konsumen. System penyaluran yang digunakan sangat
mempengaruhi makanan yang disajikan, tergantung pada jenis dan jumlah tenaga,
perlengkapan dan peralatan yang ada.
Daftar Pustaka
Muchatob. E. 1991. Manajemen
Pelayanan Gizi Makanan Kelompok. SPAG Depkes RI. Jakarta,
Instalasi Gizi dan Instalasi
Pendidikan dan Pelatihan RSUP DR. Sarjdito. PelatiahGizi Institusi. Yogakarta,
1997
Hidayati, Ratna,
2009. Asuhan Keperawatan pada
Kehamilan Fisiologis dan Patologis. Jakarta : Salemba Medika
Palacio, Theis. 2009.
Introduction to Foodservice. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Moehyi, S. 1992. Penyelenggaran
Makanan Institusi Dan Jasa Boga. Jakarta : Bhatara.
Mukrie Nursiah. Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan
Institusi. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI, 1996
Direktorat Jenderal
Pelayanan Kesehatan Direktorat
Rumah Sakit. Pedoman Pengelolaan Pelayanan Gizi Rumah
Sakit. Cetakan Pertama, 1981
Depkes RI. 2003. Manajemen
Puskesmas. Jakarta: Depkes RI
Komentar
Posting Komentar